Gambaran Umum

Mandailing Natal juga sering disebut dengan Madina adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 12 tahun 1998, secara formal diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 9 Maret 1999.

Geografis

Dalam Konstelasi regional, Kabupaten Mandailing Natal berada di bagian selatan wilayah Propinsi Sumatera Utara yang secara geografis terletak pada 0°10′-1°50′ Lintang Utara dan 98°10′-100°10′ Bujur Timur dengan rentang ketinggian 0-2.145 m di atas permukaan laut (dpl).

Batas-batas wilayah Kabupaten Mandailing Natal adalah sebagai berikut:

Letak Geografis Mandailing Natal

  • Utara – Kabupaten Tapanuli Selatan
  • Selatan – Provinsi Sumatera Barat
  • Barat – Samudera Indonesia
  • Timur – Kabupaten Padang Lawas dan Provinsi Sumatera Barat

Administratif

Administratif Mandailing NatalKabupaten yang ber-lbukota di Panyabungan ini terdiri dari 23 Kecamatan dan 407 desa/ kelurahan. Luas wilayah Kabupaten Mandailing Natal adalah 662.070 ha atau 9,24% dari wilayah Provinsi Sumatera Utara. Wilayah kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Muara Batang Gadis, yakni 143.502 ha (21,67%) sedangkan wilayah yang terkecil yaitu Kecamatan Lembah Sorik Merapi seluas 3.472,57 ha (0,52%).

Topografi

Topografi Mandailing NatalWilayah Kabupaten Mandailing Natal terdiri dari gugusan pegunungan dan perbukitan yang dikenal dengan nama Bukit Barisan dan melingkupi beberapa kecamatan. Selain itu terdapat daerah pesisir/ daerah pantai di Kecamatan Batahan, Natal dan Muara Batang Gadis. Kabupaten Mandailing Natal dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu :

  1. Dataran rendah dengan kemiringan 00 – 20 seluas 500 ha (24,24%);
  2. Dataran landai dengan kemiringan 20-150 seluas 385 ha (5,49%);
  3. Dataran tinggi dengan kemiringan 150-400 yang dibedakan atas 2 (dua) jenis yaitu:
    • Daerah Perbukitan dengan kemiringan 150-200 seluas 112.000 ha(l 6,91%);
    • Daerah Pegunungan dengan kemiringan 200-400 seluas 353.185 ha (53,34%).

Iklim

Iklim Mandailing NatalKabupaten Mandailing Natal beriklim hujan tropis dengan suhu udara berkisar antara 23°c – 32°c dan kelembaban udara antara 80 – 85 %. Curah hujan disuatu tempat dipengaruhi oleh iklim, keadaan tofografi, dan perputaran/ pertemuan arus udara.

Oleh karena itu curah hujan beragam menurut bulan dan wilayah tiap kecamatan. Pada tahun 2013 curah hujan maksimum terjadi pada bulan Desember yaitu 3.140 mm dan curah hujan minimum terjadi pada bulan Januari berkisar 584 mm. Rata­ rata jumlah curah hujan di kabupaten ini adalah 1.654 mm/ tahun. Kecamatan Muarasipongi merupakan kecamatan dengan curah hujan tertinggi yaitu 3.022 mm/ tahun sedangkan curah hujan terendah terjadi di Kecamatan Panyabungan Utara yaitu 2.172 mm/ tahun.

Sumber Mata Air
Gugusan Bukit Barisan merupakan sumber mata air sungai-sungai yang mengalir di Kabupaten Mandailing Natal. Ada 6 sungai besar bermuara ke Samudera Hindia diantaranya adalah : Batang Gadis 137,5 Km, Siulangaling 46,8 Km, Parlampungan 38,72 Km, Tabuyung 33,46 Km, Batahan 27,91 Km, Kunkun 27,26 Km, dan sungai-sungai lainnya kira-kira 271,15 Km. Keberadaan sungai-sungai itu membuktikan bahwa daerah Kabupaten Mandailing Natal adalah daerah yang subur dan menjadi lumbung pangan bagi wilayah sekitarnya.

Demografi

Demografi Mandailing NatalKabupaten Mandailing Natal terdiri dari 23 Kecamatan dengan kepadatan penduduk sebanyak 62 jiwa/ Km² dan rata-rata penduduk per desa sejumlah 1.010 jiwa. Kecamatan Lembah Sorik Merapi merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi yaitu 456 jiwa/ Km² dan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kecamatan Muara Batang Gadis yakni 11 jiwa/ Km².

Jumlah penduduk Mandailing Natal pada tahun 2012 adalah 410.931 jiwa dengan rincian jumlah laki-laki sebanyak 201.686 orang dan perempuan sebanyak 209.245 orang. Dengan demikian sex ratio terhitung sebesar 96,39. Artinya, perbandingan antara penduduk perempuan dengan laki-laki adalah 100 banding 96.

Pada tahun 2012, laju pertumbuhan penduduk di kabupaten ini adalah 0,54%. Terdapat 97.566 KK dengan rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 4,21. Struktur penduduk Kabupaten Mandailing Natal menunjukkan bahwa usia produktif (15 – 64 tahun) sangat dominan yaitu sebesar 60,33%, usia ketergantungan (O – 14 tahun) sebanyak 35,9% serta lansia sebesar 1,49%.

Strategi Pembangunan

VISI

Pembangunan Daerah dalam era desentralisasi dewasa ini pada dasarnya dilaksanakan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera yang berkeadilan, demokratis, berdaya saing dan maju. Oleh karena itu pembangunan masyarakat harus ditempatkan sebagai fokus utama dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, baik melalui pengembangan pelayanan dalam berbagai segi kehidupan seperti kesehatan, pendidikan, sosial dan ekonomi maupun melalui dukungan pembangunan fisik dan non fisik lainnya. Artinya, pada akhirnya keberhasilan pembangunan itu tidak semata-mata dilihat dari aspek pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi melainkan juga sejauh mana Pemerintah mampu menciptakan kondisi masyarakat yang hidup dengan layak dan mampu meningkatkan taraf hidupnya secara berkesinambungan, sehingga dapat dirumuskan Visi Kabupaten Mandailing Natal 2011-2016 adalah :

” TERWUJUDNYA MASYARAKAT MANDAILING NATAL YANG RELIGIUS, CERDAS, SEHAT, MAJU DAN SEJAHTERA “

MISI

Untuk mewujudkan visi diatas, perlu dijabarkan melalui misi. Hal ini tidak terlepas dari pemahaman bahwa misi adalah perwujudan dari keinginan untuk menyatukan langkah dan gerak dalam mencapai visi dan memperhatikan misi kampanye Kepala Daerah terpilih. Adapun misi untuk mewujudkan visi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama
  2. Meningkatkan akses pendidikan yang berkualitas
  3. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan pelayanan sosial
  4. Meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi, hukum, politik, pembangunan dan pemerintahan
  5. Memberdayakan masyarakat dengan kearifan lokal
  6. Menyediakan lapangan kerja dan lapangan usaha yang didukung SDM dengan keterampilan berbasis karakteristik daerah dan pemerataan kesejahteraan

Tujuan

Tujuan pada bagian ini pada dasarnya merupakan visi dalam bentuk tujuan besar (startegic goals) atau agenda yang dapat memberikan fokus pada assessment dan perumusan startegi, arah kebijakan dan program. Penyusunan tujuan besar ini dilakukan dengan berdasar pada kajian tentang implikasi kebijakan umum pembangunan dan kajian issu strategis pembangunan. Dengan kata lain perumusan tujuan dilakukan dengan mengacu pada Visi dan Misi Pembangunan Daerah, isu-isu pembangunan strategis serta hasil kajian yang telah dilakukan pada langkah sebelumnya. Adapun tujuan pembangunan daerah Kabupaten Mandailing Natal yaitu:

  1. Penataan Kehidupan yang Religius dan Berbudaya Luhur
  2. Peningkatan akses dan kualitas pendidikan
  3. Peningkatan derajat dan kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan
  4. Penciptaan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik
  5. Meningkatkan pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat

Logo dan Motto

Logo Mandailing Natal 2Peraturan Daerah Tk. II Mandailing Natal Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Lambang dan Motto Daerah antara lain menetapkan bagian-bagian, susunan, bentuk, penempatan dan makna warna, penggunaan, larangan dan motto daerah.

Lambang Daerah Kabupaten Mandailing Natal terdiri dari 4 bagian:
1. Perisai Lambang Daerah
2. Nama Daerah
3. Pengapit Lambang Daerah
4. Payung Kebesaran Adat

Perisai lambang daerah, payung kebesaran adat, pengapit lambang daerah dan motto daerah yang dimaksud disusun sedemikian rupa sehingga nama daerah berada dalam perisai lambang daerah.

Penempatan warna pada Lambang Daerah adalah sebagai berikut:
1. Perisai berbentuk jantung, warna hijau,
2. Payung warna kuning,
3. Bagas godang (rumah adat) berwarna hitam dan merah,
4. Tungku pohon karet berwarna coklat,
5. Pohon sawit berwarna hijau,
6. Gordang sembilan berwarna coklat hitam,
7. Perairan berwarna biru,
8. Hamparan sawah dan gunung,
9. Ikan berwarna kuning emas.

Pengertian warna:
a. Warna hijau melambangkan keagamaan (Islam),
b. Warna kuning melambangkan kemakmuran,
c. Warna merah melambangkan keberanian,
d. Warna hitam melambangkan kepahlawanan,
e. Warna biru melambangkan kesetiaan,
f. Warna putih melambangkan kesucian,
g. Warna coklat melambangkan kerukunan,

Pengertian Lambang dari perisai :

  1. Payung melambangkan sebagai pelindung pada bulan Agustus 1945.
  2. Bagas godang/Rumah adat melambangkan bahwa menyelesaikan permasalahan melalui musyawarah sesuai dengan kebudayaan setempat.
  3. Tungku pohon karet melambangkan keuletan masyarakat untuk mengolah potensi wilayah.
  4. Pohon sawit melambangkan kekayaan alam yang melimpah.
  5. Gordang sembilan melambangkan alat kesenian yang bisa mempersatukan berbagai etnis.
  6. Perairan melambangkan masyarakat yang agamis.
  7. Hamparan sawah dan gunung Bukit Barisan melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan.
  8. Ikan melambangkan bisuk dohot poda (kecerdikan dan nasehat) sebagai ciri khas bagi masyarakat Kabupaten Mandailing Natal
  9. Tujuh belas kuntum kapas, delapan lambang dalam lingkaran dan empat puluh lima butir padi menggambanrkan gambarkan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan dimana ketiganya melambangkan kebhineka kebudayaan yang mencerminkan kebesaran bangsa, patriotisme dan membela keadilan serta kebenaran.
  10. Burung walet melambangkan hemat dan bersehaja

Motto daerah adalah:

” Madina yang Madani “

Pengertian motto daerah madina yang madani adalah:

  1. Madina yaitu singkatan atau akronim dari mandailing natal yang merupakan wilayah/adat kabupaten daerah tingkat II Mandailing Natal.
  2. Madani yaitu masyarakatat yang hidup rukun, tentram, cukup sosial dan mermpunyai jiwa membangun yang cukup tinggi serta terbuka menerima peraturan.
  3. Madina adalah kependekan dari kaka makmur, aman, damai, indah, nyaman dan asri.

Pendidikan

Pendidikan di Mandailing NatalPada tahun 2012 terdapat sebanyak 396 Sekolah Dasar dengan jumlah guru/ tenaga pengajar sebanyak 5.055 orang. Jumlah murid pada tingkat ini adalah 66.204 orang. Sementara itu, jumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah 75 unit sekolah. Terdapat 1.450 orang guru SMP yangmendidik 16.335 orang murid. Selanjutnya, terdapat 21 unit Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan jumlah guru dan murid masing-masing sebanyak 604 orang dan 7.052 orang. Selain itu terdapat 18 unit Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan 545 orang guru serta 6.836 orang murid.

Rasio tertinggi antara murid SD terhadap jumlah sekolah terdapat di Kecamatan Panyabungan yaitu sebanyak 284 orang murid per sekolah sedangkan rasio terkecil terdapat di Kecamatan Ulu Pungkut yaitu 62 orang murid per sekolah. Pada tingkat pendidikan SMP, rasio tertinggi terdapat di Kecamatan Panyabungan Selatan yaitu 453 murid per sekolah dan yang terendah terdapat di Kecamatan Ulu Pungkut dan Muara Sipongi yaitu 94 murid per sekolah. Untuk Sekolah Menengah Atas, rasio tertinggi terdapat di Kecamatan Kotanopan yaitu 573 murid per sekolah dan terendah di Kecamatan Panyabungan Timur yaitu 95 murid per sekolah. Sampai dengan tahun 2011, belum terdapat Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Ranto Baek, Ulu Pungkut, Lembah Sorik Marapi, Puncak Sorik Marapi, Pakantan, Panyabungan Barat dan Bukit Malintang.

Kesehatan

Kesehatan di Mandailing NatalKetersediaan sarana kesehatan berupa Rumah Sakit merupakan faktor utama dalam menunjang perbaikan kualitas hidup. Hingga Tahun 2013 terdapat 4 (empat) Rumah Sakit di Kabupaten Mandailing Natal. Sarana kesehatan tersebut ditopang dengan keberadaan sarana kesehatan di tingkat kecamatan dan desa sejumlah 26 unit Puskesmas, 58 unit Puskesmas Pembantu, 24 unit puskesmas keliling serta 474 unit posyandu.

Jumlah tenaga medis yang tersedia di Kabupaten Mandailing Natal pada tahun 2012 terdiri dari Dokter Umum sebanyak 63 orang, Dokter Spesialis 13 orang, Dokter Gigi sebanyak 14 orang. Selain itu terdapat tenaga medis lainnya seperti Bidan sebanyak 587 orang, Perawat 267 orang dan Perawat Gigi sebanyak 14 orang.

Profil Kabupaten Mandailing Natal
Gambaran Umum
Sejarah dan Budaya
Potensi Daerah
Pariwisata