Kisah dan Makna Puasa Menurut Menag

Kisah dan Makna Puasa Menurut MenagJakarta (Pinmas) – Bulan Ramadhan adalah bulan yang begitu istimewa, bulan Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan bulan-bulan lainya.

Menag berkisah, dahulu saat dirinya kecil, pemahaman puasanya masih terbatas, yang dketahui semata-mata yang bila berpuasa hanya tidak diperbolehkan makan dan minum dari subuh sampai adzan magrib.

“Karena keterbatasan pemahaman tersebut, Saya waktu kecil selalu menghabiskan waktu berpuasanya dengan bermain dan mengumpulan makanan atau takzil sebagai menu berbuka puasa nanti,” ucap Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat diwawancara Republika Online di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, senin (06/06).

Seingat dirinya, itu adalah pengalaman menariknya waktu kecil yang masih terekam, karena dengan mencari makanan untuk berbuka di sore hari atau saat menjelang berbuka, sesuatu yang paling nikmat dan istimewa sekali. Ia menghabiskan waktu dengan bermain di lapangan, seperti bermain layangan dan aktifitas anak-anak seumur nya saat itu.

Menag menjelaskan, di saat kecil tersebut di mana masa-masa seorang anak memiliki semangat bermain, maka saat itu pula selain melaksanakan ibadah lainya seperti shalat dan mengaji, dirinya juga suka menghabiskan waktunya itu sambil menunggu berbuka segera tiba.

Hal-hal tersebut yang masih diingat Menag di mana masa kecilnya, ketika pemahaman berpuasa hanya sebatas itu, maka dengan beranjak usia, seharusnya kita tahu makna puasa itu seperti apa, tentu kita harus berubah dan memahami esensi berpuasa sesungguhnya seperti apa.

“Sehingga kalau kita masih berprilaku seperti anak-anak dulu maka sesungguhnya puasa kita tidak meningkat, dan kita tidak berbeda seperti anak-anak”, terang Menag.

Oleh karenannya, ujar Menag, harus dipahami esensi berpuasa itu, yaitu bagaimana kita mengendalikan diri, ternyata tidak mudah kita mengendalikan diri itu. Karena saat kita marah, senang, sedih, di Islam diajarkan tidak diperbolehkan berekspresi atau melakukan hal tersebut dengan berlebihan apalagi mengikuti hawa nafsu, emosi sehingga dapat melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji dan kekerasan. (rd/dm/dm).

Sumber: kemenag.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*