Desa Pagur Penghasil Kopi Arabika Terbesar di Mandailing Natal

Desa Pagur Penghasil Kopi Terbesar di Mandailing NatalPanyabungan – Desa Pagur saat ini menjadi salah satu penghasil kopi Arabika Mandailing terbesar di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yaitu sekitar 10 ton/ bulan (gabah kopi).

Areal perkebunan kopi milik masyarakat Desa Pagur berada di Kecamatan Panyabungan Timur ini memiliki ketinggian yang cukup untuk ditanami kopi jenis arabika yaitu sekitar 900-1400 meter di atas permukaan laut (dpl).

“Kesuburan tanah yang juga sangat mendukung sehingga tanaman kopi tumbuh subur meskipun sebagian besarnya belum menggunakan pupuk kimia maupun organik. Peningkatan produksi juga terus mengalami kenaikan setiap tahunnya,” ujar Mahfus Budiawan Nasution seorang petani kopi di desa itu kepada MedanBisnis, kemarin di Panyabuangan.

Tanaman kopi tumbuh subur, katanya, karena semangat petani yang sangat luar biasa merawat kopi, juga tidak terlepas dari peran Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) melalui instansi terkait Dinas Kehutanan dan Perkebunan dalam membantu serta membina dan terus melakukan pendampingan kepada petani.

Mahpus lulusan Tekhnik Elektro di salah satu universitas di Riau itu menjelaskan, perkebunan kopi milik masyarakat yang terletak di Aek Gorsing ini berjarak 10 km- 17 km dari Desa Pagur memiliki akses transportasi yang sangat sulit. “Sehingga tidaklah aneh jika biaya pengangkutan kopi yang dikeluarkan jauh lebih tinggi dari Aek Gorsing ke Pagur dari pada biaya pengangkutan dari Pagur ke Medan,” ucapnya.

Biaya pengangkutan yang beragam dari Rp 1.500/kg – Rp 3.000/kg tergantung jaraknya dianggap masih wajar mengingat buruknya kondisi jalan yang harus dilalui. Dia mengatakan petani sangat berharap ada perbaikan jalan.

Selain dapat menekan biaya pengangkutan, katanya, hal ini juga akan dapat membantu petani dalam memaksimalkan perawatan kopi yang ke depannya dapat meningkatakan produktivitas tanaman, serta perbaikan dalam proses pasca panen sehingga kualitas dapat ditingkatkan lagi. “Dengan akses yang mudah kelak petani juga diharapkan dapat menerapkan kebun kopi organik” katanya.

Produktivitas tanaman kopi saat ini masih tergolong rendah jika dibandingkan daerah penghasil kopi lainnya yang sudah sejak lama bertanam kopi seperti gayo atau dari negara lain seperti Brasil dan Vietnam. Petani kopi desa Pagur saat ini baru bisa menghasilkan sekitar 600 kg-700 kg per hektare/tahun (green bean/biji beras), masih sangat jauh tertinggal dari Brasil yang mencapai 2.000 kg/hektare.

Menurutnya, pengalaman serta pengetahuan petani tentang perawatan yang masih rendah dan sulitnya akses menuju kebun menjadi penyebab rendahnya produktivitas tanaman kopi di desa ini. Dibutuhkan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan petani yang berkelanjutan dari dinas terkait maupun pihak lainnya serta perbaikan akses jalan agar peningkatan yang lebih signifikan dapat segera tercapai.

“Budidaya tanaman kopi merupakan suatu kegiatan di sektor pertanian yang paling ramah lingkungan. Karena budidaya kopi dengan tanaman pelindung yang permanen pada satu sisi menjamin kelestarian lingkungan, termasuk konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS), dan di sisi lain memberikan manfaat ekonomi yang cukup tinggi,” katanya.

Dia berharap peran semua stakeholder dapat mengurai permasalahan yang dialami petani kopi di Madina khususnya di Desa Pagur saat ini. Dengan demikian, katanya, kelak nama kopi Mandailing yang namanya sudah mendunia tersebut berjaya kembali dengan kopi yang berkualitas dan berasal dari tanah Mandailing. Sehingga kesadaran petani dalam menjaga kelestarian lingkungan dalam berkebun kopi dampaknya akan bermanfaat bagi semua. (zamharir rangkuti)

Sumber: medanbisnisdaily.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*