Aksi Bela Islam II di Tabagsel! Kapolres Madina Minta Supaya Jangan Terprovokasi

Aksi Bela Islam II di Tabagsel! Kapolres Madina Minta Supaya Jangan TerprovokasiMADINA – Jumat (4/11), sebagian besar umat Islam di tanah air akan tumpah di jantung Kota Jakarta. Mereka menuntut proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dan, aksi serupa juga dilakukan di sebagian besar wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), seperti Madina, Palas dan Paluta.

Atas aksi tersebut, Kapolres Madina AKBP Rudi Rifani mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar jangan terprovokasi dengan isu SARA, baik secara langsung maupun melalui media sosial yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Saya menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar lebih teliti dan lebih bijak dalam menyikapi informasi, apalagi berbau SARA yang belakangan ini marak beredar di media-media sosial khususnya Facebook,” ujar Kapolres Mandailing Natal, AKBP Rudi Rafani di rumah dinasnya, kemarin.

Perwira menengah Polri itu mengatakan, informasi tersebut sengaja dibangun oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan mengadu domba antar umat beragama.

Mengingat belakangan ini media sosial seperti Facebook sering diijadikan media untuk mengadu domba masyarakat, untuk itu dia mengharapkan kepada segenap lapisan masyarakat agar lebih teliti melihat dan membaca informasi-informasi yang beredar di media sosial.

“Bila mana masyarakat menemukan adanya akun-akun pada media sosial yang mempublis status berisikan penistaan agama saya harapkan secepatnya dilaporkan kepada aparat kepolisian,” katanya.

Selain itu, kapolres juga mengharapkan kepada para pengguna media sosial agar lebih berhati-hati menggunakannya dan jangan sampai dihacker oleh orang yang tidak bertanggung jawab karena sangat berbahaya.

Akhiri Saling Curiga agar Kedamaian Aksi 4 November Terjaga

Sejumlah elemen menyerukan pentingnya menjaga kebhinnekaan dan komitmen kebangsaan agar Indonesia tetap harmonis. Seruan itu sebagai pengingat seiring rencana aksi unjuk rasa besar-besaran bertitel Aksi Bela Islam II yang rencananya akan digelar di kawasan Monas, Jumat (4/11) agar tetap tertib, aman dan damai.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsudin Haris menyatakan, kecurigaan di antara elemen bangsa sudah melembaga sejak lama. “Sehingga sering kali menempatkan kita pada situasi sulit,” katanya dalam diskusi Forum Wartawan Peduli Kebhinnekaan di Jakarta, Kamis (3/10).

Diskusi itu juga menghadirkan sejumlah pembicara lain. Yakni wartawan senior Budiarto Shambazy, Ketua Lembaga Kajian Sosial Politik Ketahanan Nasional (LKSPKN) Bambang Sulistomo, pengamat sosial Emmy Hafild, Ketua Umum PB HMI Mulyadi Tamsir dan Ketua Presidium Pusat GMNI, Chrisman Damanik.

Syamsuddin menambahkan, situasi saling curiga sudah terkondisikan sejak masa kolonial. Bahkan, katanya, saat Indonesia di bawah era otoritarian, sikap saling curiga itu justru dilembagakan.

Karenanya saat pemerintahan otoriter jatuh, di antara pemimpin sipil tidak punya agenda menata bangsa ini ke depan. Yang ada justru persaingan di antara para tokoh politik yang terus berlanjut meskipun pemilu sudah usai.

Sedangkan Bambang Sulistomo mengatakan, banyak gagasan di bidang politik maupun ekonomi yang tak pernah dituntaskan. Menurutnya, hal itu disebabkan tidak adanya kesungguhan dalam melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara konsekuen.

Karena itu, cara yang bisa mengatasi berbagai ketimpangan adalah melalui penegakan hukum dan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara konsekuen. Sayangnya, sejak dulu, para penguasa tidak pernah melaksanakan perintah konstitusi secara tuntas dan tegas.

Sementara Emi Hafild mensinyalir banyak negara asing yang iri terhadap kehidupan harmonis di antara elemen masyarakat di Indonesia. Karenanya, selalu ada kekuatan luar yang berupaya menunggangi berbagai situasi sehingga membuat suasana terlihat mencekam.Adapun Budiarto Shambazy menilai situasi sosial saat ini sudah terlalu dikendalikan media sosial yang informasinya belum tentu akurat. Dia juga melihat situasi yang berkembang saat ini terkait demo 4 November 2016 karena dipicu akun Si Buni Yani di Facebook yang mengunggah video pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu, September lalu tidak secara utuh.

“Media mainstream sudah tergeser media sosial di mana banyak informasi yang disampaikan sering kali tidak valid,” terangnya.

Sedangkan Mulyadi Tamsir mengatakan, masalah kebhinnekaan bangsa sudah menjadi suatu keniscayaan. Tapi, pihaknya akan turun demo besok, menuntut proses hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama.

“Kita tidak boleh saling memaksakan kehendak, biarkan orang menyampaikan aspirasi secara damai,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Presidium Pusat GMNI Christian Damanik menegaskan, masalah kebhinekaan bangsa merupakan komitmen bersama yang melahirkan Pancasila sebagai titik temu berbagai aliran. Hanya saja, katanya, belakangan memang ada pengusung paham radikal.

“Apalagi, saat ini, radikalisme bukan hanya menyangkut isme tertentu, tapi meliputi fundamentalisme pasar yang sangat menggangu. Kita berharap, demo besok tetap berlangsung damai sehingga memberi ketenangan bagi bangsa keseluruhan,” paparnya.

Siap 100 Persen

Panglima Aksi Bela Islam II Munarman, memastikan persiapan aksi yang dilakukan Jumat (4/11), sudah 100 persen.

Hal tersebut dipastikan mantan aktivis KontraS ini usai melakukan rapat koordinasi terakhir dengam beberapa anggota FPI.

Munarman menyatakan aksi akan berjalan sesuai rencana. “Ya insya Allah aksi akan berjalan sesuai rencana. Tadi saya melakukan rapat koordinasi agar besok berjalan lancar,” kata Munarman di Markaz Syariah FPI, Petamburan, Jakarta, Kamis (3/11).

Munarman menambahkan selain membahas koordinasi, rapat tersebut juga membahas penempatan tim agar bisa bekerja maksimal.

“Kita juga memantapkan tim yang bertugas di lapangan besok. Ini bertujuan agar aksi bisa terkoordinir dengan baik dan peserta aksi bisa mengikuti komando yang telah ditetapkan,” tutup Munarman. (wan/fer/rmo/ara/jpnn)

Sumber: metrotabagsel.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.